Halo, lama tidak menyapa!
Sebelumnya saya ingin memperkenalkan dulu teman-teman ngebolang kali ini, ada Ella dan Esti, mereka berdua teman sekolah dari Solo. Berhubung saya dari Jakarta, kami putuskan untuk bertemu di Semarang. Setelah sepakat untuk bertemu jam 7 malam di poll travel Kencana Semarang dan Ella dan Esti datang (terima kasih Nur dan Icak tanpa kalian apalah aku di Semarang sendirian) kami membeli bekal makan untuk malam, nasi padang (iya nasi padang untuk supper (?) coba bayangkan tengah malam makan nasi padang, gimana mau kurus.
Perjalanan dari Semarang ke pelabuhan Jepara ternyata hanya memakan waktu dua jam saja, jadi kami tiba di pelabuhan sekitar jam 9 malam. Padahal loket kapal Feri Siginjai dibuka jam lima pagi. Malam masih panjang. Kami putuskan untuk makan malam di emperan depan sekertariat pelabuhan sebelum masuk ke area tunggu dekat loket.
Malam ini ramai, mungkin karena masih suasana mudik jadi masih banyak keluarga yang bolak-balik Jepara-Karimun ataupun sebaliknya. Beruntunglah suasana pelabuhan ramai, karena Ella bilang, dulu saat dia kesini, pelabuhan dalam keadaan gelap gulita dan sepi.
Oia, kami hari ini rencananya akan menginap di loket pelabuhan karena harus mengantre untuk membeli tiket kapal Siginjai jam 5 pagi nanti. Tiket Express Bahari atau kapal cepat sudah habis terjual jauh-jauh hari karena dapat dipesan secara online sedangkan tiket Feri Siginjai dapat dibeli langsung pada hari itu.
Tapi untuk kalian yang khawatir menginap di pelabuhan, bisa kok tanya sama driver travel atau warga sekitar, homestay yang murah untuk semalam. Dan pagi-pagi kalian bisa langsung ikut mengantre. Malam ini kami tidur di kursi-kursi dekat perpustakan pelabuhan, untungnya di dalam ruang tunggu ini hangat walau ada nyamuk sih, tapi beruntunglah kami tidak harus menginap di luar yang pasti anginnya akan dingin sekali.
Tapi untuk kalian yang khawatir menginap di pelabuhan, bisa kok tanya sama driver travel atau warga sekitar, homestay yang murah untuk semalam. Dan pagi-pagi kalian bisa langsung ikut mengantre. Malam ini kami tidur di kursi-kursi dekat perpustakan pelabuhan, untungnya di dalam ruang tunggu ini hangat walau ada nyamuk sih, tapi beruntunglah kami tidak harus menginap di luar yang pasti anginnya akan dingin sekali.
Kami berusaha tidur sebisa mungkin tapi jam tiga pagi saja, orang-orang dan calo mulai sibuk mengantre, jadilah Ella mengantre tiket bersama para penumpang lain. Padahal loket masih dibuka dua jam lagi! Setelah selesai mengantre tiket dan sholat kami berjalan menuju kapal, yang bodohnya kami salah jalan hahaha, harusnya kami keluar dari area loket, kami malah masuk ke area kapal express.
Ternyata saat kami masuk, suasana kapal sudah lumayan penuh, kami memilih duduk di lantai dua kapal. Sebenarnya banyak kursi kursi yang masih kosong, tapi karena kursi itu dijadikan hak milik oleh sebagian penumpang, akhirnya penumpang lain yang tidak kebagian duduk mengelar tikar di area jalan kanan-kiri, kapal berangkat pukul 07.00 pagi.
Entah kenapa ya kayaknya dimana-mana tuh memang susah banget untuk tertib. Tadi pagi saat mengantre, Ella di selak 2 ibu-ibu dan satu bapak-bapak yang entah datang dari mana. Masalahnya kami saja bela-belain tidur disini dan mengantre, dia entah datang darimana tiba-tiba masuk ke antrean! Kalaupun dia tidur di sini juga kan dia harusnya mengerti, semua orang juga lelah dan ingin cepat dapat tiket kan? Duh! Lalu lihat suasana kapal, satu orang niat sekali menguasai lima kursi untuk dia tidur. Kalian kan ya bayarnya satu loh, kasihan yang harus duduk di lantai, selain kasihan kan juga mengganggu jalan. Tapi yah ditegur malah dia yang lebih galak. Benar kan? Capek deh!
Oia, jangan lupa sarapan dan minum obat ya, karena selain kesal melihat tingkah orang-orang, kesehatan kalian juga perlu di jaga. Jadi, pastikan kalian sudah sarapan secukupnya dan minum obat agar tidak mabuk laut. Karena perjalanan menggunakan Siginjai ini harus ditempuh dalam 5 jam dengan kondisi arus yang saat itu lumayan kencang. Jadi lebih baik tidur agar tidak terlalu terasa guncangannya. Naik express pun lebih terasa lagi guncanganya, jadi persiapkan diri dan fisikmu secara baik baik ya, jangan sampai kamu kelelahan duluan sebelum sampai Karimun.
Saat di kapal saya berkenalan dengan ibu-ibu yang duduk di samping saya, beliau juga dari Jakarta rupanya. Beliau banyak bercerita dari mulai geng ngajinya yang suka jalan-jalan sampai masa-sama beliau kuliah. Dia ternyata ke Karimun bertiga, bersama Suami dan anaknya. Go show. Belum booking penginapan dan tour lautnya. Atau mungkin anaknya yang urus. Oia, namanya bu Iin. Dan ketika si bapak datang, saya jadi ingat, ini kan bapak yang tidur di sebelah kami waktu kami makan nasi padang semalam.
Setelah terombang-ambing di lautan selama kurang lebih 5 jam, kami akhirnya sampai juga di Karimun Jawa yang PADAT SEKALI. Saya pun pamitan ke keluarga bu Iin, lalu kami berpisah. Jalanan di pelabuhan Karimun macet karena banyak mobil-mobil yang akan masuk dan keluar kapal, belum lagi gerombolan manusia yang menunggu dijemput atau menanti kendaran sewaan.
Dulu, kata Ella, jalan Karimun masih sepi dengan mobil, hanya ada sepeda motor saja. Lagipula jalanan Karimun Jawa itu kecil, kayaknya buat teman-teman yang mau menyebrang bawa mobil sebaiknya di urungkan saja niatnya, atau kalau sekeluarga mending sewa mobilnya disana saja, karena mobil jika dibawa menyebrang tarifnya sekitar 800rb sekali jalan, belum penumpangnya.
Suasana ramai dan panas Karimun Jawa menyambut kami dengan sukacita, ah lega rasanya. Karena masih agak pusing saya membeli es kopi depan 'rumah besar.' ternyata harganya 3rb saja euy! Bahkan murah ini daripada di warteg Jakarta eheheh. Eh eh eh, ketemu lagi sama bu Iin yang sedang meneduh dibawah pohon. Beliau cerita akhirnya anaknya sudah ikut tour laut tapi masih cari penginapan yang kosong. Berpisahlah kami dengan bu Iin karena motor sewaan kami sudah datang. Yeay! Welcome to Karimun Jawa.
Setelah mendapat motor dari Mas Pluwek, akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Bunga Jabe. Peringatan untuk kalian semua ketika melihat tukang bensin, segera belilah bensin karena bensin disini langka sekali! Kami nyaris kehabisan bensin, untungnya kami menemukanya setelah nyaris sepuluh menit keliling-keliling.
Selain bertemu bensin, kami juga bertemu dengan bapak pemilik penginapan 'Homestay Pantura'. Homestay si bapak ini persis dibelakang rumah nenek penjual bensin. Saya lupa nama si bapak karena beliau meminta saya menyimpan nomornya dengan nama Homestay Pantura. Untuk kalian yang ingin menginap di tempat yang tidak terlalu jauh dari pelabuhan tapi dekat pantai, homestay Pantura ini bisa jadi pilihan. Disini juga kalian bisa melihat sunset tanpa perlu jauh jauh ke pantai lagi(yaiyalah pantainya terbentang di depan persis).
(Homestay Pantura)
Setelah selesai bercakap-cakap dengan si bapak kami melanjutkan perjalanan ke Bunga Jabe, perjalanan di dominasi dengan sawah-sawah, kebun dan hutan mangroove. Ternyata perjalanan menuju Bunga Jabe harus ditempuh selama tiga puluh menit dari pelabuhan, letak Bunga Jabe ini nyaris di ujung pulau persis di dekat bandara. Dan Bunga Jabe sudah tidak bisa disebut Karimun, tapi Kemujan. Jadi selamat datang di Kemujan! Setelah 30
menit mengendarai motor, akhirnya kami sampai juga di Bunga Jabe. Kamar kami letaknya paling ujung, dan ketika kita membuka kamar yang kami lihat adalah lautan! Sesaat setelah kami sampai, kami disuguhi Es Teh Manis yang menyegarkan, wah rasanya lelah dan dahaga langsung hilang. Waktunya main di pantai!

menit mengendarai motor, akhirnya kami sampai juga di Bunga Jabe. Kamar kami letaknya paling ujung, dan ketika kita membuka kamar yang kami lihat adalah lautan! Sesaat setelah kami sampai, kami disuguhi Es Teh Manis yang menyegarkan, wah rasanya lelah dan dahaga langsung hilang. Waktunya main di pantai!

Hari ini kami putuskan untuk main-main di Bunga Jabe saja, agar lelah di badan kami setelah 5 jam perjalanan sirna. Bunga Jabe cantik sekali. Kalian bisa berenang dan main di pantai langsung dari depan kamar. Karena kami kelaparan akhirnya kami memesan makanan ke dapur penginapan. Ibu di dapur bilang mereka hanya punya lauk ikan, apakah kami tidak apa-apa?
Dan ternyata masakan ikannya besar sekali, rasanya segar dan enak. Tapi karena terlalu besar kami bagikan ikanya ke Bianca, yup, Bianca adalah teman baru kami, si kucing. Nanti malam kami akan menuju ke Alun-alun, duh jangan bayangkan dulu bagaimana jalanannya, sudah pasti malam ini juga akan panjang.
0 comments:
Posting Komentar