Hari itu kami ber-6 bersiap-siap melakukan perjalanan,
sekitar jam 3 siang kami sudah siap dengan motor sewaan, ya kita ber-6 adalah
wanita-wanita tangguh yang kebetulan di pertemukan di sebuah desa Tulungrejo
desa kecil di Pare tempat yang biasa di sebut kampung inggris, setelah lelah
setiap hari belajar struktur grammar yang bisa bikin struktur otak kami mengkerut *lho kami memutuskan untuk berlibur ke sebuah
pantai, di kediri memang bukan daerah peisir pantai akhirnya kami memutuskan
untuk ke Trenggalek, nama pantainya Prigi, setelah semua persiapan selesai kami
semua membaca Bismillah dan tidak lupa foto dulu. ;p
Ready for new journey?
perjalanan memakan waktu kurang lebih 3 / 4 jam, dengan di
temani mobil bus yang melajau lebih kencang dari metromini di Jakarta, dengan
kendaraan lain yang tidak pernah pelan, bekal makanan pun kami santap dengan
lahap di sebuah musholla SPBU, setelah sholat dan perut kenyang kami mulai
melanjutkan perjalanan, sepanjang perjalanan di dominasi persawahan dan
pohon-pohon rindang, ah menyenangkan. Perjalanan kami mulai memasuki
bukit-bukit, lalu mulai gelap dan menuju pergunungan. Ini adalah perjalanan pertama saya menggunakan motor metik
ke sebuah pegunungan atau bukit ya pokoknya itulah di Trenggalek membuat sekujur badan saya kelelahan, sedari
tadi kami mengandalkan GPS teman kami, yang ternyata baru kami ketahui bahwa
GPS tersebut tidak berfungsi saat perjalanan karena signal hilang saat kami
mulai memasuki hutan, akhirnya kami menggunakan insting dan penunjuk jalan,
sekilas terlihat ‘Pantai Prigi 12KM lagi’ senang seketika menyerap semua
kelelahan kami.
Akhirnya kami sampai di watu limo pantai Prigi pada
jam 6 sore lewat beberapa menit, kami mecari musholla terdekat yang ternyata
sudah tutup, akhirnya kami mampir di sebuah warung yang masih buka, si ibu
bilang kalau mushollanya bisa di buka tapi airnya tidak ada, kami membayar
beberapa ribu untuk mandi cuci kakus, lalu pergi ke musholla yang ternyata
airnya lancar jaya, zonk sekali, tak apalah amal. Setelah sholat magrib yang kita lanjutkan dengan sholat isya
akhirnya kita kembali ke warung lalu pamitan, kita sempat bertanya ke ibu
warung ada penginapan murah yang masih kosong atau tidak, dan berhubung musim
liburan dengan cekatan si ibu itu menelpon kenalanya untuk bertanya apakah
masih ada kamar kosong untuk kami, dan ternyata tidak ada, jadilah kami semua
pucat pasih haruskah tidur di musholla yang tadi? atau tidur-tiduran di pantai?
akhirnya kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu karna perut kami tidak
bisa diajak kompromi, kami pun pamit pada ibu warung lalu melajukan motor
keluar ke area jalanan untuk mencari makan.
Sampailah kami di sebuah warung makan, kami menikmati makan
dengan lahap lalu membayar, tapi tiba-tiba salah satu dari kami merasa di
buntuti oleh sebuah mobil kijang di sebrang yang sedari tadi tidak menunjukan
aktivitas apa-apa, di dalam otak kami sudah terbersit berbagai macam
kemungkinan buruk yang terjadi, di culik, di rampok, dan lainya. Sampai
akhirnya kami meminta tolong kepada si Bapak dan Ibu pemilik warung untuk
menghantar kita mencari pengginapan. Sekitar jam 9 malam kami mulai kelelahan
si Ibu bilang menginaplah disini karena di warung itu hanya dia dan suaminya
yang tinggal. Saya sukses menjadi penerjemah bahasa jawa walaupun entah benar atau tidak bahasanya, karna hanya saya saja yang kebetulan orang jawa (Cirebon) dan ternyata anak
si Ibu bekerja di surabaya dan pulang hanya sesekali itupun ke kampungnya. si
Ibu bercerita banyak tentang anaknya, desa watu limo, dan sedikit tentang masa
mudanya dengan si Bapak, yang saya terjemahkan dengan sukses ke dalam bahasa
Indonesia agar di mengerti oleh kaka-kaka seperjalan saya, oia saya adalah yang
paling muda dan kekanankan diantara mereka ;p,
Si Bapak dengan baik hati akhirnya mengajak kami ke pantai
katanya jalan-jalan malem mingguan, sekalian cari peginapan, kami memacu motor
kami ke pantai Karanggongso katanya pantai ini jauh lebih bagus dari Prigi,
kami di sambut deburan ombak yang sedari tadi kami rindukan, suara ombak yang
menderu-deru membuat lelah di sekujur tubuh kami sirna seketika, kami
menginjakan diri ke pasir pantai lalu menengadah ke atas dan Subhanallah
bintang di langit terang benderang membuat perasaan kami makin senang, di
sebelah kami ada beberapa anak muda yang ternyata sedang ber-api unggun kami
berniat tiduran di sini tapi si bapak tentu saja langsung menolak keputusan kami karena katanya kami
kan perempuan tidak baik kena anggin malam, sampai akhirnya bapak tanya ke
kenalanya masih ada pengginapan atau tidak dan hasilnya sama, tidak ada.
Akhirnya kami pasrah saja jika harus tidur di musholla tapi si Bapak dan Ibu
mengajak kami kembali ke rumahnya, akhirnya malam ini kita menginap di warung
si Ibu Bapak itu, Ka Dini dan Ka Yani tidur di kamar, saya, Ka Anggy, Ka Yati
dan Ka Citra tidur di depan, beralaskan tikar dan kami masih sempat foto-foto
katanya ‘biar nanti anak kita tau, kalo kita pernah nyasar dan tidur di warung
warga’ haha. hari ini kita tutup dengan doa sambil bersyukur setidaknya kami
bisa tidur aman.
Ke-esokan harinya kami bangun subuh-subuh sholat dan sikat
gigi merepotkan si ibu yang sedang masak, kita semua tidak bisa mandi dengan
keadaan pintu yang terbuka haha, muka kurang tidur dan lusuh mengiringi pagi
kami, tanpa secangkir kopi. Kami berpamitan pada Ibu dan Bapak untuk ke pantai.
ternyata kami salah tempat kami malah nyasar dan naik ke gunung, kebodohan dan
kesiaalan di pagi hari, mungkin efek belum sarapan hehe, dan subhanaAllah lagi
dari atas ketinggian kami melihat pantai, cantik sekali. Kami turun gunung dan
di peringatkan untuk tetap menyalakan mesin oleh si bapak-bapak ojek. Kami ke
pelabuhan, kapal-kapal nelayan banyak sekali, kata nelayan mereka sedang tidak
berlayar karena sedang tidak musim panen, dan cuaca yang kurang baik makanya
tidak ada pelelangan ikan, biasanya ramai, terlihat dari gunungan keranjang ikan
di sudut gedung pelelangan.
![]() |
tempat pelelangan ikan |
Setelah berputar-putar mencari tempat akhirnya kami dapat
tempat juga, kami sewa tikar untuk menaruh tas-tas kami dan dengan hebohnya
saya kehilangan ponsel kesayangan saya, liburan jadi terasa tidak menyenangkan,
setelah di cari dan kembali ke tempat peelangan ikan, akhirnya saya parah saja, ya mau
gimana, dan di hibur oleh kaka-kaka tiri, karena mereka dengan kompaknya
memangil saya anak tiri, akhirnya kami foto-foto dan berenang-renang di pantai,
yuhu pantai, kali ini benar-benar pantai dengan pemandangan bukit - bukit yang
menjadi batasnya, bukan laut lepas yang biasa saya lihat. Setelah puas
main-main air dan foto kami memutukan untuk menyewa perahu berkeliling pantai,
dengan biaya 85.000 kami ber-6 bisa langsung naik tanpa harus menunggu
wisatawan lain, semua rasa lelah kemarin terbayar sudah walau kami gagal
mendapat sunrise dan sunset setidaknya liburan kali ini menjadi momen
menyenangkan, karena besok saya akan pulang ke Jakarta, puas dengan pantai
perut kami kerncongan, kami akhirnya memutukan memesan ikan laut bakar yang
rasanya luar biasa enak, kalo boleh minjem slogan pak bondan, maknyus! dan
ponsel saya ternyata terselip di tas kamera, ah senangnya.
Setelah perut sudah diisi kami bersih-bersih dan pulang kembali ke kosan kami di Pare tidak lupa berpamitan kepada Ibu dan Bapak warung yang baik hati. Perjalanan ini tidak akan pernah terlupakan, perjalanan menemukan surga tersembunyi di salah satu sudut Indonesia, sebuah pantai yang masih jernih airnya, sebuah perjalanan bersama orang-orang baru, terimakasih kaka-kaka GPH2, it will just be a story, but with you all it will be an amazing story :) salam GPH2 *joget harlem shake*
culik aku kesan kakaaaaaa
BalasHapusyuk, pantainya rame tapi masih bagus banget hoahaha ngiri kan?
BalasHapus