Apa yang terlintas di fikiran kalian ketika melihat gambar itu? sebuah monumen megah di Paris sana, tapi tunggu itu bukan di Paris, itu di Indonesia di Kediri tepatnya, namanya Simpang Lima Gumul, saya suka sekali Paris, jadi saya sering mencari-cari artikel tentang Paris dan menemukan tentang Gumul.
Saya tidak pernah terpikir jika suatu hari nanti bisa kesana, sampai akhirnya tanggal 10 Juni saya menginjakan kaki di Kota Kediri dan melihat betapa megahnya si ‘Gumul’ yang sedang hanggat di perbincangkan
Beberapa minggu kemudian kaka-kaka di kosan saya Girl Peace House 2 (GPH2) mengajak saya ke Gumul, kami sudah menyiapkan bugdet dan segala persiapan lainya untuk ke Gumul, tapi ternyata kenyataan tidak semanis harapan, kami tidak dapat sewaan motor.
Akhirnya kami memutuskan untuk tidak jadi pergi, sampai akhirnya ada yang punya usul sedikit gila, ‘kita naik sepeda aja yuk, daripada gak jadi, kalo kecapekan ya paling cuman sampe wisata jamur kita pulang lagi’ jadilah perjalanan nekat itu bermula.
Perjalanan dengan formasi Saya, Ka Nilam, Ka Anggi, Ka Citra, Ka Yati, Ka Yani, kami ber-6 sudah siap tempur, perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam dengan sepeda, membayangkanya saja kami sudah lelah. Tekat kami bulat, sebulat telur ceplok yang selalu jadi makanan favorit kami hehe.
Sekitar jam 4 sore kami keluar dari kos-kosan, bismillah lalu memulai perjalanan, ka Nilam memimpin di depan. Sekitar satu jam kemudian, mulailah terasa kaki pegal, dan tanggan yang mulai lelah, tapi niat kami tak pernah surut kami terus mengowes sepeda kami, setelah hampir dua jam perjalanan, dari langit terang sampai langit menggelap kami akhirnya sampai juga di Gumul, dari kejauhan sudah terlihat rasanya lelah mengowes terbayar sudah.
Setelah sampai, kami memarkir sepeda di depan Gumul, lalu duduk-duduk istirahat, melemaskan otot kaki yang bekerja keras selama 2 jam, bayangkan naik sepeda 2 jam? olimpiade tingkat kecamatan.
Tapi tiba-tiba seorang Bapak berseragam menghampiri kami, dengan galak dia mengusir kami yang parkir sembarangan, dan menyuruh kami pindah ke parkiran, dan dengan polos saya malah bilang ‘Ka minta bapa-bapa itu buat fotoin kita ber-6 yuk’, yang langsung di sambut anggukan dan pelototan.
Akhrinya kami memutuskan untuk ke parkiran, berhubung parkiran biasanya hanya memiliki 2 jenis kendaraan yaitu motor dan mobil, akhirnya sepeda kami di tempatkan di depan dekat pintu masuk, special ya hehe.
Setelah membayar uang parkir dan memastikan sepeda terkunci dengan benar kami masuk, saat ke dalam saya merasa lorong panjang ini sama seperti lorong bawah tanah di Monumen Nasional di Jakarta sana.
Setelah melewati lorong dan naik tangga, kami akhirnya muncul di pelataran Gumul, akhirnyaaaaaaa. Wajah lusuh penuh keringat, kami berubah cerah melihat indahnya Gumul malam hari, akhirnya setelah mengelap peluh dan istirahat kami siap untuk berfoto-foto, kami minta tolong mas-mas yang sedang bercengkrama untuk memotret kami. Tapi kalian bisa tebal, ya, hasilnya blur hahahaha.
Akhirnya kami mencari tempat duduk, kami memilih teras ya anggaplah itu teras gumul, lalu duduk setelah minum dan merenggangkan otot kami siap untuk foto-foto lagi, ya mau makan juga kita gak bawa bekel dan gak ada pedagang disini andai saja di sediakan kantin di bawah lorong atau di belakang gumul.
Setelah sesi foto-foto kami istirahat persiapan untuk pulang, di Gumul semakin malam semakin ramai penggunjung, ada segerombolan anak-anak yang sedang latihan nge-Dance, muda-mudi, dan juga keluarga. malam senin kami terasa ramai sekali disini.
Tiba-tiba ada orang bergerombol rasa penasaran mengusik kami, ternyata ada mas-mas yang membawa ular phyton peliharaanya, Ka Yati dan Ka Citra menyempatkan diri untuk bercengkrama dan berfoto dengan ular, saya sendiri kebagian jadi fotographer karna ya saya takut dengan ular.
Tadinya terbersit dalam kepala untuk menengok isi Gumul, penasaran apa yang ada di dalam bangunan Gumul itu sendiri tapi, katanya belum di buka, ada lift tapi belum bisa di gunakan juga, apa mungkin di dalamnya ada museum? mungkin saja, setelah puas kami akhirnya memutuskan untuk pulang ke kosan.
Sekitar jam 8 malam kami memulai perjalanan pulang, perut kami terasa keroncongan, kami memilih ‘pecel ayam’ sebagai menu makan malam, sepanjang perjalanan mata kami awas untuk mencari tempat makan. Saya melihat 'ayam taliwang' jadi ingat lombok, ah lombok.
Sempat ka Yani berhenti di depan tukang sate, sate iya sate biawak hahaha, kami bergidik ngeri lalu mengowes sepeda lagi ambil tertawa-tawa, mungkin efek lapar dan lelah haha.
Tiba-tiba sepeda di depan mengerem mendadak hampir terjadi tabrakan di karenakan motor yang lewat sembarangan, akhirnya kami menemukan warung pecel yang terlihat lumayan, dan benar saja disini seporsi nasi pecel lele kita akan di beri 2 buah lele yang ukuranya lumayan besar, mantap bukan? hehehe.
Setelah perut kenyang dan hati senang kami melanjutkan perjalanan lagi. perjalanan kami sempat melewati jalanan gelap tanpa lampu hampir sekitar 100 meter jauhnya. Kelelahan menerpa kami, tapi kami terus mengowes sepeda sampai akhirnya kami berjumpa lagi dengan tugu ini, pertanda perjalanan kami sedikit lagi.
Saya melihat jam tangan, sudah sekitar jam 10 lewat, kami akhirnya sampai juga di kos-kosan, mandi, sholat lalu istirahat. Terima kasih kaka-kaka GPH2. Perjalanan panjang kali ini telah kami lewati, atas dasar kebersamaan dan penyuka jalan-jalan kami melewati 4 jam panjang sembari mengowes sepeda kami,
0 comments:
Posting Komentar