Minggu, 07 Juli 2013

[Traveling] Karanggongso, Si Surga Tersembunyi

       Hari itu kami ber-6 bersiap-siap melakukan perjalanan, sekitar jam 3 siang kami sudah siap dengan motor sewaan, ya kita ber-6 adalah wanita-wanita tangguh yang kebetulan di pertemukan di sebuah desa Tulungrejo desa kecil di Pare tempat yang biasa di sebut kampung inggris, setelah lelah setiap hari belajar struktur grammar yang bisa bikin struktur otak kami mengkerut *lho kami memutuskan untuk berlibur ke sebuah pantai, di kediri memang bukan daerah peisir pantai akhirnya kami memutuskan untuk ke Trenggalek, nama pantainya Prigi, setelah semua persiapan selesai kami semua membaca Bismillah dan tidak lupa foto dulu. ;p


Ready for new journey?

           perjalanan memakan waktu kurang lebih 3 / 4 jam, dengan di temani mobil bus yang melajau lebih kencang dari metromini di Jakarta, dengan kendaraan lain yang tidak pernah pelan, bekal makanan pun kami santap dengan lahap di sebuah musholla SPBU, setelah sholat dan perut kenyang kami mulai melanjutkan perjalanan, sepanjang perjalanan di dominasi persawahan dan pohon-pohon rindang, ah menyenangkan. Perjalanan kami mulai memasuki bukit-bukit, lalu mulai gelap dan menuju pergunungan. Ini adalah perjalanan pertama saya menggunakan motor metik ke sebuah pegunungan atau bukit ya pokoknya itulah di Trenggalek membuat sekujur badan saya kelelahan, sedari tadi kami mengandalkan GPS teman kami, yang ternyata baru kami ketahui bahwa GPS tersebut tidak berfungsi saat perjalanan karena signal hilang saat kami mulai memasuki hutan, akhirnya kami menggunakan insting dan penunjuk jalan, sekilas terlihat ‘Pantai Prigi 12KM lagi’ senang seketika menyerap semua kelelahan kami.

         Akhirnya kami sampai di watu limo pantai Prigi pada jam 6 sore lewat beberapa menit, kami mecari musholla terdekat yang ternyata sudah tutup, akhirnya kami mampir di sebuah warung yang masih buka, si ibu bilang kalau mushollanya bisa di buka tapi airnya tidak ada, kami membayar beberapa ribu untuk mandi cuci kakus, lalu pergi ke musholla yang ternyata airnya lancar jaya, zonk sekali, tak apalah amal. Setelah sholat magrib yang kita lanjutkan dengan sholat isya akhirnya kita kembali ke warung lalu pamitan, kita sempat bertanya ke ibu warung ada penginapan murah yang masih kosong atau tidak, dan berhubung musim liburan dengan cekatan si ibu itu menelpon kenalanya untuk bertanya apakah masih ada kamar kosong untuk kami, dan ternyata tidak ada, jadilah kami semua pucat pasih haruskah tidur di musholla yang tadi? atau tidur-tiduran di pantai? akhirnya kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu karna perut kami tidak bisa diajak kompromi, kami pun pamit pada ibu warung lalu melajukan motor keluar ke area jalanan untuk mencari makan.

           Sampailah kami di sebuah warung makan, kami menikmati makan dengan lahap lalu membayar, tapi tiba-tiba salah satu dari kami merasa di buntuti oleh sebuah mobil kijang di sebrang yang sedari tadi tidak menunjukan aktivitas apa-apa, di dalam otak kami sudah terbersit berbagai macam kemungkinan buruk yang terjadi, di culik, di rampok, dan lainya. Sampai akhirnya kami meminta tolong kepada si Bapak dan Ibu pemilik warung untuk menghantar kita mencari pengginapan. Sekitar jam 9 malam kami mulai kelelahan si Ibu bilang menginaplah disini karena di warung itu hanya dia dan suaminya yang tinggal. Saya sukses menjadi penerjemah bahasa jawa walaupun entah benar atau tidak bahasanya, karna hanya saya saja yang kebetulan orang jawa (Cirebon) dan ternyata anak si Ibu bekerja di surabaya dan pulang hanya sesekali itupun ke kampungnya. si Ibu bercerita banyak tentang anaknya, desa watu limo, dan sedikit tentang masa mudanya dengan si Bapak, yang saya terjemahkan dengan sukses ke dalam bahasa Indonesia agar di mengerti oleh kaka-kaka seperjalan saya, oia saya adalah yang paling muda dan kekanankan diantara mereka ;p,

        Si Bapak dengan baik hati akhirnya mengajak kami ke pantai katanya jalan-jalan malem mingguan, sekalian cari peginapan, kami memacu motor kami ke pantai Karanggongso katanya pantai ini jauh lebih bagus dari Prigi, kami di sambut deburan ombak yang sedari tadi kami rindukan, suara ombak yang menderu-deru membuat lelah di sekujur tubuh kami sirna seketika, kami menginjakan diri ke pasir pantai lalu menengadah ke atas dan Subhanallah bintang di langit terang benderang membuat perasaan kami makin senang, di sebelah kami ada beberapa anak muda yang ternyata sedang ber-api unggun kami berniat tiduran di sini tapi si bapak tentu saja langsung menolak keputusan kami karena katanya kami kan perempuan tidak baik kena anggin malam, sampai akhirnya bapak tanya ke kenalanya masih ada pengginapan atau tidak dan hasilnya sama, tidak ada. Akhirnya kami pasrah saja jika harus tidur di musholla tapi si Bapak dan Ibu mengajak kami kembali ke rumahnya, akhirnya malam ini kita menginap di warung si Ibu Bapak itu, Ka Dini dan Ka Yani tidur di kamar, saya, Ka Anggy, Ka Yati dan Ka Citra tidur di depan, beralaskan tikar dan kami masih sempat foto-foto katanya ‘biar nanti anak kita tau, kalo kita pernah nyasar dan tidur di warung warga’ haha. hari ini kita tutup dengan doa sambil bersyukur setidaknya kami bisa tidur aman.

         Ke-esokan harinya kami bangun subuh-subuh sholat dan sikat gigi merepotkan si ibu yang sedang masak, kita semua tidak bisa mandi dengan keadaan pintu yang terbuka haha, muka kurang tidur dan lusuh mengiringi pagi kami, tanpa secangkir kopi. Kami berpamitan pada Ibu dan Bapak untuk ke pantai. ternyata kami salah tempat kami malah nyasar dan naik ke gunung, kebodohan dan kesiaalan di pagi hari, mungkin efek belum sarapan hehe, dan subhanaAllah lagi dari atas ketinggian kami melihat pantai, cantik sekali. Kami turun gunung dan di peringatkan untuk tetap menyalakan mesin oleh si bapak-bapak ojek. Kami ke pelabuhan, kapal-kapal nelayan banyak sekali, kata nelayan mereka sedang tidak berlayar karena sedang tidak musim panen, dan cuaca yang kurang baik makanya tidak ada pelelangan ikan, biasanya ramai, terlihat dari gunungan keranjang ikan di sudut gedung pelelangan.

tempat pelelangan ikan



        Setelah berputar-putar mencari tempat akhirnya kami dapat tempat juga, kami sewa tikar untuk menaruh tas-tas kami dan dengan hebohnya saya kehilangan ponsel kesayangan saya, liburan jadi terasa tidak menyenangkan, setelah di cari dan kembali ke tempat peelangan ikan, akhirnya saya parah saja, ya mau gimana, dan di hibur oleh kaka-kaka tiri, karena mereka dengan kompaknya memangil saya anak tiri, akhirnya kami foto-foto dan berenang-renang di pantai, yuhu pantai, kali ini benar-benar pantai dengan pemandangan bukit - bukit yang menjadi batasnya, bukan laut lepas yang biasa saya lihat. Setelah puas main-main air dan foto kami memutukan untuk menyewa perahu berkeliling pantai, dengan biaya 85.000 kami ber-6 bisa langsung naik tanpa harus menunggu wisatawan lain, semua rasa lelah kemarin terbayar sudah walau kami gagal mendapat sunrise dan sunset setidaknya liburan kali ini menjadi momen menyenangkan, karena besok saya akan pulang ke Jakarta, puas dengan pantai perut kami kerncongan, kami akhirnya memutukan memesan ikan laut bakar yang rasanya luar biasa enak, kalo boleh minjem slogan pak bondan, maknyus! dan ponsel saya ternyata terselip di tas kamera, ah senangnya.

       Setelah perut sudah diisi kami bersih-bersih dan pulang kembali ke kosan kami di Pare tidak lupa berpamitan kepada Ibu dan Bapak warung yang baik hati. Perjalanan ini tidak akan pernah terlupakan, perjalanan menemukan surga tersembunyi di salah satu sudut Indonesia, sebuah pantai yang masih jernih airnya, sebuah perjalanan bersama orang-orang baru, terimakasih kaka-kaka GPH2, it will just be a story, but with you all it will be an amazing story :) salam GPH2 *joget harlem shake*

















2 komentar: