Senin, 22 Juli 2013

[Traveling] Simpang Lima Gumul Parisnya Kediri



Apa yang terlintas di fikiran kalian ketika melihat gambar itu? sebuah monumen megah di Paris sana, tapi tunggu itu bukan di Paris, itu di Indonesia di Kediri tepatnya, namanya Simpang Lima Gumul, saya suka sekali Paris, jadi saya sering mencari-cari artikel tentang Paris dan menemukan tentang Gumul.

Saya tidak pernah terpikir jika suatu hari nanti bisa kesana, sampai akhirnya tanggal 10 Juni saya  menginjakan kaki di Kota Kediri dan melihat betapa megahnya si ‘Gumul’ yang sedang hanggat di perbincangkan

Beberapa minggu kemudian kaka-kaka di kosan saya Girl Peace House 2 (GPH2) mengajak saya ke Gumul, kami sudah menyiapkan bugdet dan segala persiapan lainya untuk ke Gumul, tapi ternyata kenyataan tidak semanis harapan, kami tidak dapat sewaan motor.

Akhirnya kami memutuskan untuk tidak jadi pergi, sampai akhirnya ada yang punya usul sedikit gila, ‘kita naik sepeda aja yuk, daripada gak jadi, kalo kecapekan ya paling cuman sampe wisata jamur kita pulang lagi’ jadilah perjalanan nekat itu bermula.

Perjalanan dengan formasi Saya, Ka Nilam, Ka Anggi, Ka Citra, Ka Yati, Ka Yani, kami ber-6 sudah siap tempur, perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam dengan sepeda, membayangkanya saja kami sudah lelah. Tekat kami bulat, sebulat telur ceplok yang selalu jadi makanan favorit kami hehe.

Sekitar jam 4 sore kami keluar dari kos-kosan, bismillah lalu memulai perjalanan, ka Nilam memimpin di depan. Sekitar satu jam kemudian, mulailah terasa kaki pegal, dan tanggan yang mulai lelah, tapi niat kami tak pernah surut kami terus mengowes sepeda kami, setelah hampir dua jam perjalanan, dari langit terang sampai langit menggelap kami akhirnya sampai juga di Gumul, dari kejauhan sudah terlihat rasanya lelah mengowes terbayar sudah. 

Gumul di kejauhan
Setelah sampai, kami memarkir sepeda di depan Gumul, lalu duduk-duduk istirahat, melemaskan otot kaki yang bekerja keras selama 2 jam, bayangkan naik sepeda 2 jam? olimpiade tingkat kecamatan.

Tapi tiba-tiba seorang Bapak berseragam menghampiri kami, dengan galak dia mengusir kami yang parkir sembarangan, dan menyuruh kami pindah ke parkiran, dan dengan polos saya malah bilang ‘Ka minta bapa-bapa itu buat fotoin kita ber-6 yuk’, yang langsung di sambut anggukan dan pelototan.

Akhrinya kami memutuskan untuk ke parkiran, berhubung parkiran biasanya hanya memiliki 2 jenis kendaraan yaitu motor dan mobil, akhirnya sepeda kami di tempatkan di depan dekat pintu masuk, special ya hehe.

Setelah membayar uang parkir dan memastikan sepeda terkunci dengan benar kami masuk, saat ke dalam saya merasa lorong panjang ini sama seperti lorong bawah tanah di Monumen Nasional di Jakarta sana.

Setelah melewati lorong dan naik tangga, kami akhirnya muncul di pelataran Gumul, akhirnyaaaaaaa. Wajah lusuh penuh keringat, kami berubah cerah melihat indahnya Gumul malam hari, akhirnya setelah mengelap peluh dan istirahat kami siap untuk berfoto-foto, kami minta tolong mas-mas yang sedang bercengkrama untuk memotret kami. Tapi kalian bisa tebal, ya, hasilnya blur hahahaha.

Akhirnya kami mencari tempat duduk, kami memilih teras ya anggaplah itu teras gumul, lalu duduk setelah minum dan merenggangkan otot kami siap untuk foto-foto lagi, ya mau makan juga kita gak bawa bekel dan gak ada pedagang disini andai saja di sediakan kantin di bawah lorong atau di belakang gumul. 

Setelah sesi foto-foto kami istirahat persiapan untuk pulang, di Gumul semakin malam semakin ramai penggunjung, ada segerombolan anak-anak yang sedang latihan nge-Dance, muda-mudi, dan juga keluarga. malam senin kami terasa ramai sekali disini. 

Tiba-tiba ada orang bergerombol rasa penasaran mengusik kami, ternyata ada mas-mas yang membawa ular phyton peliharaanya, Ka Yati dan Ka Citra menyempatkan diri untuk bercengkrama dan berfoto dengan ular, saya sendiri kebagian jadi fotographer karna ya saya takut dengan ular.

Tadinya terbersit dalam kepala untuk menengok isi Gumul, penasaran apa yang ada di dalam bangunan Gumul itu sendiri tapi, katanya belum di buka, ada lift tapi belum bisa di gunakan juga, apa mungkin di dalamnya ada museum? mungkin saja, setelah puas kami akhirnya memutuskan untuk pulang ke kosan.

Sekitar jam 8 malam kami memulai perjalanan pulang, perut kami terasa keroncongan, kami memilih ‘pecel ayam’ sebagai menu makan malam, sepanjang perjalanan mata kami awas untuk mencari tempat makan. Saya melihat 'ayam taliwang' jadi ingat lombok, ah lombok. 

Sempat ka Yani berhenti di depan tukang sate, sate iya sate biawak hahaha, kami bergidik ngeri lalu mengowes sepeda lagi ambil tertawa-tawa, mungkin efek lapar dan lelah haha.

Tiba-tiba sepeda di depan mengerem mendadak hampir terjadi tabrakan di karenakan motor yang lewat sembarangan, akhirnya kami menemukan warung pecel yang terlihat lumayan, dan benar saja disini seporsi nasi pecel lele kita akan di beri 2 buah lele yang ukuranya lumayan besar, mantap bukan? hehehe.

Setelah perut kenyang dan hati senang kami melanjutkan perjalanan lagi. perjalanan kami sempat melewati jalanan gelap tanpa lampu hampir sekitar 100 meter jauhnya. Kelelahan menerpa kami, tapi kami terus mengowes sepeda sampai akhirnya kami berjumpa lagi dengan tugu ini, pertanda perjalanan kami sedikit lagi.


Tugu Garuda
Saya melihat jam tangan, sudah sekitar jam 10 lewat, kami akhirnya sampai juga di kos-kosan, mandi, sholat lalu istirahat. Terima kasih kaka-kaka GPH2. Perjalanan panjang kali ini telah kami lewati, atas dasar kebersamaan dan penyuka jalan-jalan kami melewati 4 jam panjang sembari mengowes sepeda kami, 


Selamat malam para pejalan, selamat menjelajah negri pertiwi, teruslah berjalan kawan-kawan.









Minggu, 07 Juli 2013

[Traveling] Karanggongso, Si Surga Tersembunyi

       Hari itu kami ber-6 bersiap-siap melakukan perjalanan, sekitar jam 3 siang kami sudah siap dengan motor sewaan, ya kita ber-6 adalah wanita-wanita tangguh yang kebetulan di pertemukan di sebuah desa Tulungrejo desa kecil di Pare tempat yang biasa di sebut kampung inggris, setelah lelah setiap hari belajar struktur grammar yang bisa bikin struktur otak kami mengkerut *lho kami memutuskan untuk berlibur ke sebuah pantai, di kediri memang bukan daerah peisir pantai akhirnya kami memutuskan untuk ke Trenggalek, nama pantainya Prigi, setelah semua persiapan selesai kami semua membaca Bismillah dan tidak lupa foto dulu. ;p


Ready for new journey?

           perjalanan memakan waktu kurang lebih 3 / 4 jam, dengan di temani mobil bus yang melajau lebih kencang dari metromini di Jakarta, dengan kendaraan lain yang tidak pernah pelan, bekal makanan pun kami santap dengan lahap di sebuah musholla SPBU, setelah sholat dan perut kenyang kami mulai melanjutkan perjalanan, sepanjang perjalanan di dominasi persawahan dan pohon-pohon rindang, ah menyenangkan. Perjalanan kami mulai memasuki bukit-bukit, lalu mulai gelap dan menuju pergunungan. Ini adalah perjalanan pertama saya menggunakan motor metik ke sebuah pegunungan atau bukit ya pokoknya itulah di Trenggalek membuat sekujur badan saya kelelahan, sedari tadi kami mengandalkan GPS teman kami, yang ternyata baru kami ketahui bahwa GPS tersebut tidak berfungsi saat perjalanan karena signal hilang saat kami mulai memasuki hutan, akhirnya kami menggunakan insting dan penunjuk jalan, sekilas terlihat ‘Pantai Prigi 12KM lagi’ senang seketika menyerap semua kelelahan kami.

         Akhirnya kami sampai di watu limo pantai Prigi pada jam 6 sore lewat beberapa menit, kami mecari musholla terdekat yang ternyata sudah tutup, akhirnya kami mampir di sebuah warung yang masih buka, si ibu bilang kalau mushollanya bisa di buka tapi airnya tidak ada, kami membayar beberapa ribu untuk mandi cuci kakus, lalu pergi ke musholla yang ternyata airnya lancar jaya, zonk sekali, tak apalah amal. Setelah sholat magrib yang kita lanjutkan dengan sholat isya akhirnya kita kembali ke warung lalu pamitan, kita sempat bertanya ke ibu warung ada penginapan murah yang masih kosong atau tidak, dan berhubung musim liburan dengan cekatan si ibu itu menelpon kenalanya untuk bertanya apakah masih ada kamar kosong untuk kami, dan ternyata tidak ada, jadilah kami semua pucat pasih haruskah tidur di musholla yang tadi? atau tidur-tiduran di pantai? akhirnya kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu karna perut kami tidak bisa diajak kompromi, kami pun pamit pada ibu warung lalu melajukan motor keluar ke area jalanan untuk mencari makan.

           Sampailah kami di sebuah warung makan, kami menikmati makan dengan lahap lalu membayar, tapi tiba-tiba salah satu dari kami merasa di buntuti oleh sebuah mobil kijang di sebrang yang sedari tadi tidak menunjukan aktivitas apa-apa, di dalam otak kami sudah terbersit berbagai macam kemungkinan buruk yang terjadi, di culik, di rampok, dan lainya. Sampai akhirnya kami meminta tolong kepada si Bapak dan Ibu pemilik warung untuk menghantar kita mencari pengginapan. Sekitar jam 9 malam kami mulai kelelahan si Ibu bilang menginaplah disini karena di warung itu hanya dia dan suaminya yang tinggal. Saya sukses menjadi penerjemah bahasa jawa walaupun entah benar atau tidak bahasanya, karna hanya saya saja yang kebetulan orang jawa (Cirebon) dan ternyata anak si Ibu bekerja di surabaya dan pulang hanya sesekali itupun ke kampungnya. si Ibu bercerita banyak tentang anaknya, desa watu limo, dan sedikit tentang masa mudanya dengan si Bapak, yang saya terjemahkan dengan sukses ke dalam bahasa Indonesia agar di mengerti oleh kaka-kaka seperjalan saya, oia saya adalah yang paling muda dan kekanankan diantara mereka ;p,

        Si Bapak dengan baik hati akhirnya mengajak kami ke pantai katanya jalan-jalan malem mingguan, sekalian cari peginapan, kami memacu motor kami ke pantai Karanggongso katanya pantai ini jauh lebih bagus dari Prigi, kami di sambut deburan ombak yang sedari tadi kami rindukan, suara ombak yang menderu-deru membuat lelah di sekujur tubuh kami sirna seketika, kami menginjakan diri ke pasir pantai lalu menengadah ke atas dan Subhanallah bintang di langit terang benderang membuat perasaan kami makin senang, di sebelah kami ada beberapa anak muda yang ternyata sedang ber-api unggun kami berniat tiduran di sini tapi si bapak tentu saja langsung menolak keputusan kami karena katanya kami kan perempuan tidak baik kena anggin malam, sampai akhirnya bapak tanya ke kenalanya masih ada pengginapan atau tidak dan hasilnya sama, tidak ada. Akhirnya kami pasrah saja jika harus tidur di musholla tapi si Bapak dan Ibu mengajak kami kembali ke rumahnya, akhirnya malam ini kita menginap di warung si Ibu Bapak itu, Ka Dini dan Ka Yani tidur di kamar, saya, Ka Anggy, Ka Yati dan Ka Citra tidur di depan, beralaskan tikar dan kami masih sempat foto-foto katanya ‘biar nanti anak kita tau, kalo kita pernah nyasar dan tidur di warung warga’ haha. hari ini kita tutup dengan doa sambil bersyukur setidaknya kami bisa tidur aman.

         Ke-esokan harinya kami bangun subuh-subuh sholat dan sikat gigi merepotkan si ibu yang sedang masak, kita semua tidak bisa mandi dengan keadaan pintu yang terbuka haha, muka kurang tidur dan lusuh mengiringi pagi kami, tanpa secangkir kopi. Kami berpamitan pada Ibu dan Bapak untuk ke pantai. ternyata kami salah tempat kami malah nyasar dan naik ke gunung, kebodohan dan kesiaalan di pagi hari, mungkin efek belum sarapan hehe, dan subhanaAllah lagi dari atas ketinggian kami melihat pantai, cantik sekali. Kami turun gunung dan di peringatkan untuk tetap menyalakan mesin oleh si bapak-bapak ojek. Kami ke pelabuhan, kapal-kapal nelayan banyak sekali, kata nelayan mereka sedang tidak berlayar karena sedang tidak musim panen, dan cuaca yang kurang baik makanya tidak ada pelelangan ikan, biasanya ramai, terlihat dari gunungan keranjang ikan di sudut gedung pelelangan.

tempat pelelangan ikan



        Setelah berputar-putar mencari tempat akhirnya kami dapat tempat juga, kami sewa tikar untuk menaruh tas-tas kami dan dengan hebohnya saya kehilangan ponsel kesayangan saya, liburan jadi terasa tidak menyenangkan, setelah di cari dan kembali ke tempat peelangan ikan, akhirnya saya parah saja, ya mau gimana, dan di hibur oleh kaka-kaka tiri, karena mereka dengan kompaknya memangil saya anak tiri, akhirnya kami foto-foto dan berenang-renang di pantai, yuhu pantai, kali ini benar-benar pantai dengan pemandangan bukit - bukit yang menjadi batasnya, bukan laut lepas yang biasa saya lihat. Setelah puas main-main air dan foto kami memutukan untuk menyewa perahu berkeliling pantai, dengan biaya 85.000 kami ber-6 bisa langsung naik tanpa harus menunggu wisatawan lain, semua rasa lelah kemarin terbayar sudah walau kami gagal mendapat sunrise dan sunset setidaknya liburan kali ini menjadi momen menyenangkan, karena besok saya akan pulang ke Jakarta, puas dengan pantai perut kami kerncongan, kami akhirnya memutukan memesan ikan laut bakar yang rasanya luar biasa enak, kalo boleh minjem slogan pak bondan, maknyus! dan ponsel saya ternyata terselip di tas kamera, ah senangnya.

       Setelah perut sudah diisi kami bersih-bersih dan pulang kembali ke kosan kami di Pare tidak lupa berpamitan kepada Ibu dan Bapak warung yang baik hati. Perjalanan ini tidak akan pernah terlupakan, perjalanan menemukan surga tersembunyi di salah satu sudut Indonesia, sebuah pantai yang masih jernih airnya, sebuah perjalanan bersama orang-orang baru, terimakasih kaka-kaka GPH2, it will just be a story, but with you all it will be an amazing story :) salam GPH2 *joget harlem shake*

















Sabtu, 05 Januari 2013

[Traveling] Sawarna - Itinerary

    
Ciantir
Hari Pertama
05.00 : Berangkat dari rumah
06.20 : Serangkat dari stasiun UI
07.00 : Sampe di stasiun Kereta Api Bogor
07.30 : Sampe di terminal Baranang Siang ( naik mini bus MGI )
08.30 : Berangkat menuju Sawarna
13.00 : Sampai di Pelabuhan Ratu ( Naik Elf )
15.00 : Sampai di Sawarna
16.30 : Ke pantai ciantir
18.00 : Pulang ke homestay
19.00 : Makan bareng
21.00 : Tidur



Tanjung Layar
Hari ke Dua
04.45 : Banggun pagi berburu sunrise
06.00 : Sampai di tanjung layar
08.00 : Pulang ke homestay
08.30 : Sarapan
11.00 : Beach time ( ciantir )
12.30 : Pulang
13.00 : Makan siang
15.30 : Beach time yuhuu (ciantir again)
18.00 : Pulang ke homestay
19.00 : Makan malam
21.30 : Ke pantai siap siap tahun baruan di pantai
00.00 : Pergantian tahun 2013
01.00 : Pulang ke Homestay Tidur

Rangkasbitung
Hari ke Tiga
05.00 : Bangun pagi
06.00 : Mandi + Prepare
06.30 : Sarapan
07.00 : Berangkat ke stasiun bayah
07.30 : Sampai
08.00 : Berangkat ke rangkas bitung
09.30 : Malimping
12.00 : Sampe terminal Rangkasbitung
12.30 : Sampai di stasiun Rangkasbitung
13.00 : Makan siang
15.00 : Berangkat menuju Jakarta dengan kereta "Kalimaya"
17.00 : Sampai di Jakarta
19.00 : Sampi di rumah ( di ajak muter muter dulu  sama temen jadi sampe di rumah telat haha)

         Oke sebenernya kalau gue jadiin cerita mungkin agak panjang ya, itinireary ini gue buat berdasarkan pengalaman waktu SMK tugas dari guru saat overland ke Bali pada saat gue kelas 1SMK, jadi ke bawa sampe sekarang untuk menulisnya dalam bentuk Itinerary ( jadwal ). ini beberapa photo yang gue ambil saat trip ke sawarna, enjoy :)

Sunrise Tanjung Layar

Tanjung Layar
Tanjung Layar
Ciantir
Look! Banyak tenda, saking penuhnya homestay
Saya di Bukit Tanjung Layar
Saya dan teman backpacker saya
medan ke Tanjung Layar
Trek ke tanjung Layar
Bukit di samping Tanjung Layar

Bonjour
Ombak TanjungLayar
Trek menuju bayah
Homestay and Crew
Saya dan Claudia
Pengunjung lain
Trek menuju bayah
Trek Sunrise
Saya di Bukit Tanjung Layar

Hello
Gmorning
       
































Cherss

Oke Guys, sampe sini dulu ya foto fotonya :) mau di rapihin tapi gak tahu bagaimana caranya hehe :) so kalo lagi liburan terus butuh air ( eh maksudnya mau wisata pantai) silahkan datang ke Sawarna di jamin kece cetar membahana hehe :) sebernya mau kasih tau berpa budget yang akan kita keluarkan tapi berhungung sudah panjang sekali postnya, jadinya saya akan share contact person saja hoemstay saya semoga membantu  jika inggin pergi ke sana hehe

Bu ejah Homestay

No Telp :
081910994952

letak homestaynya di samping Elsa Homestay, nanti saya post kelengkapan homestay di post selanjutnya ya :)



See u on next destination \m/