Senin, 31 Maret 2025

Merayakan Kehilangan




Perayaan paling menyakitkan adalah perayaan kehilangan, sehari, seminggu sebulan, setahun lalu jadi seribu. 

Pada hari pertama perayaan kehilangan orang-orang bermata sembab duduk sambil mengucap doa, sebagian lagi menyalami tamu sambil menahan tangis dan bertanya-tanya soal takdir.

Kehilangan itu sering kali kita rayakan, padahal kesedihannya masih terasa sampai entah berapa lama. Kita merayakan kehilangan sampai rasa sedihnya berkurang sedikit demi sedikit.

Pertanyaan basa basi apa kabar tak lagi bisa dilontarkan, oleh-oleh yang diminta setahun sekali tak bisa lagi dipenuhi.

Pada perayaan kehilangan ke seribu orang-orang tampak biasa, tidak ada lagi tangis bahkan mungkin sudah lupa.

di dapur ibu-ibu memasak sambil tertawa, melihat anak gadisnya mencoba mengupas wortel, bapak-bapak sibuk mengotong kardus air minum dan menyapu halaman rumah.

rumah terasa ramai dan sepi pada saat yang bersamaan, beberapa tahun sekali keluarga berkumpul merayakan kehilangan.

Pada bulan kemarau panjang di tahun ini aku merayakan kehilangan yang kesekian, sembari terduduk di dekat gundukan tanah kering sambil membaca doa.

Kuselipkan sedikit rindu dan bercerita tentang apa saja, tapi sebagaian besarnya tentang keikhlasan. Kehilangan tetap saja menyakitkan walau sudah terlewati begitu lama. Ketika pulang dan melihat disudut kecil diantara foto-foto usang, rindu itu kadang tak terbendung derasnya.

0 comments:

Posting Komentar