Selasa, 29 Juli 2025

Merayakan Kehilangan - Seporsi popmie

Di penghujung sore yang tenang, aku duduk berdua bersama temanku, bercengkrama sembari menikmati angin dan senja.

Temanku memesan seporsi popmie pada penjual keliling sedangkan aku memesan nutri sari jeruk sembari menunggu pesanan pangsit kuahku jadi.

Ditengah perbincangan seru tentang kehidupan, aroma popmie menyergapku, tiba-tiba saja ingatan itu muncul tanpa diminta.

Di kepala, kulihat punggung laki-laki sedang menyeduh popmie, katanya, di dalam hidupnya, itu adalah mie cup pertamanya, dia terdengar bahagia, bercerita tentang pengalaman pertama menyeduh mie dalam sebuah cup, praktis serunya.

Aku membuat catatan di dalam kepala, nanti kalau bertemu lagi, akan kuhadiahkan untuknya.

Tiba-tiba kenangan lain menyeruak, tentang memori-memori kecil yang hampir terlupakaan, sawah, cabai, terong, kacang panjang, motor tanpa plat, ember serta topi jerami.

Sapaan hangat juga pertanyaan tentang kabar dan kehidupan. Tentang kota tempat tinggal, tentang studi dan pekerjaan, kadang diselipkan pertanyaan sudah punya pacar belum.

Aku tertegun dan hampir menangis, kenangan itu terasa dekat dan jauh sekaligus.

Janji janji yang belum di tepati tidak bisa lagi di laksanakan, kadung pergi tanpa meninggalkan pesan.

Yang bisa diberikan hanya doa, semoga sampai pada yang dirindukan.



Senin, 31 Maret 2025

Merayakan Kehilangan




Perayaan paling menyakitkan adalah perayaan kehilangan, sehari, seminggu sebulan, setahun lalu jadi seribu. 

Pada hari pertama perayaan kehilangan orang-orang bermata sembab duduk sambil mengucap doa, sebagian lagi menyalami tamu sambil menahan tangis dan bertanya-tanya soal takdir.

Kehilangan itu sering kali kita rayakan, padahal kesedihannya masih terasa sampai entah berapa lama. Kita merayakan kehilangan sampai rasa sedihnya berkurang sedikit demi sedikit.

Pertanyaan basa basi apa kabar tak lagi bisa dilontarkan, oleh-oleh yang diminta setahun sekali tak bisa lagi dipenuhi.

Pada perayaan kehilangan ke seribu orang-orang tampak biasa, tidak ada lagi tangis bahkan mungkin sudah lupa.

di dapur ibu-ibu memasak sambil tertawa, melihat anak gadisnya mencoba mengupas wortel, bapak-bapak sibuk mengotong kardus air minum dan menyapu halaman rumah.

rumah terasa ramai dan sepi pada saat yang bersamaan, beberapa tahun sekali keluarga berkumpul merayakan kehilangan.

Pada bulan kemarau panjang di tahun ini aku merayakan kehilangan yang kesekian, sembari terduduk di dekat gundukan tanah kering sambil membaca doa.

Kuselipkan sedikit rindu dan bercerita tentang apa saja, tapi sebagaian besarnya tentang keikhlasan. Kehilangan tetap saja menyakitkan walau sudah terlewati begitu lama. Ketika pulang dan melihat disudut kecil diantara foto-foto usang, rindu itu kadang tak terbendung derasnya.