Di penghujung sore yang tenang, aku duduk berdua bersama temanku, bercengkrama sembari menikmati angin dan senja.
Temanku memesan seporsi popmie pada penjual keliling sedangkan aku memesan nutri sari jeruk sembari menunggu pesanan pangsit kuahku jadi.
Ditengah perbincangan seru tentang kehidupan, aroma popmie menyergapku, tiba-tiba saja ingatan itu muncul tanpa diminta.
Di kepala, kulihat punggung laki-laki sedang menyeduh popmie, katanya, di dalam hidupnya, itu adalah mie cup pertamanya, dia terdengar bahagia, bercerita tentang pengalaman pertama menyeduh mie dalam sebuah cup, praktis serunya.
Aku membuat catatan di dalam kepala, nanti kalau bertemu lagi, akan kuhadiahkan untuknya.
Tiba-tiba kenangan lain menyeruak, tentang memori-memori kecil yang hampir terlupakaan, sawah, cabai, terong, kacang panjang, motor tanpa plat, ember serta topi jerami.
Sapaan hangat juga pertanyaan tentang kabar dan kehidupan. Tentang kota tempat tinggal, tentang studi dan pekerjaan, kadang diselipkan pertanyaan sudah punya pacar belum.
Aku tertegun dan hampir menangis, kenangan itu terasa dekat dan jauh sekaligus.
Janji janji yang belum di tepati tidak bisa lagi di laksanakan, kadung pergi tanpa meninggalkan pesan.
Yang bisa diberikan hanya doa, semoga sampai pada yang dirindukan.