Sabtu, 17 Oktober 2020

A Beam of Light


Sepertinya ada yang salah...
Itu kalimat yang ku rasa paling menggambarkan keadaan waktu itu, ada sesuatu yang salah dalam diriku, yang menggerogotiku setiap hari.

Setiap hari aku melakukan hal yang sama berkali-kali, bangun, kerja, pulang, tidur, siklus itu kualami setahun belakangan tapi seperti ada lubang yang mengaga, yang kosong, yang terus-terusan minta diisi.

Aku berkali-kali menangis tanpa tahu sebabnya, aku berkali-kali bilang pada diriku bahwa aku harus bekerja terus menerus atau perasaan kosong ini akan semakin parah, itulah kenapa kerja adalah cutting off dari overthinkingku. Agar aku lupa perasaan kosongku.

Tapi namanya lubang, kalau kamu ada didekatnya dan tidak segera menutupnya, kamu jatuh juga.

Hari itu aku ingat sekali, aku bangun pagi seperti biasa tapi yang kulakukan hanya duduk diam, menangis. Aku tidak tahu apa yang salah, tapi aku merasa terlalu lelah, aku ingin berhenti sebentar.

Tapi dunia di luar kamar kosku tetap berputar, kerjaan di kantorku tetap menumpuk, abang bakso tetap berjualan, burung tetap terbang, hanya aku yang berhenti.

Akhirnya dengan segala kekalutan, aku berangkat kerja dan menemukan dirku melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang tidak perlu.

Aku merasa aku tidak berguna, aku merasa aku begitu bodoh.

Aku tahu ada yang salah dan harus segera kuperbaiki, aku harus bersih-bersih pikiranku.

Akhirnya setelah seminggu merasa hampa, aku memutuskan untuk mereview semua kegiataanku selama setahun, membaca semua notes keseharianku selama setahun belakangan, berusaha menemukan apa yang salah sama diriku.

Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa tahun depan (2020) aku harus punya tujuan, karena selama ini aku seperti daun di sungai, ikut mengalir tapi tidak tahu kemana arahnya. Hanya ikut arus.

Aku tidak pernah punya tujuan pasti, harapan, dan mimpi yang ingin kucapai.

Setelah aku hanya tiduran berjam-jam sembari memikirkan masa depanku, mau dibawa kemana hidupku, aku berusaha untuk menulis kembali, menulis satu-satu hal yang ingin aku capai, tujuan-tujuanku kedepan, keinginan-keinginan yang tertunda, mimpi-mimpi yang belum kurealisasikan.

Aku urutkan satu-persatu, apa yang ingin kucapai dalam sebulan, setengah tahun, setahun, tiga tahun, lima tahun, dan sepuluh tahun kedepan. Bahkan long life goalsku.

Aku mulai punya semangat lagi, aku mulai punya sesuatu yang ini kugapai, sesuatu yang ingin kuperjuangkan, hal-hal yang ingin kulakukan, bukan cuma kerja, kerja, kerja.

Aku menemukan diriku sendiri disudut ruangan bangkit dan berusaha memulai lagi. Aku merasa aku lebih hidup dalam beberapa tahun belakangan ini.

Aku bersyukur aku bisa menemukan seberkas cahaya di kegelapan.

Aku berharap jika ada yang membaca catatan ini dan merasakan hal yang sama, take your time, tidak apa-apa untuk berhenti sebentar lalu kembali menata hidup.

Tidak apa-apa kita tertinggal, nanti kita bisa berjalan lagi,

Tidak apa-apa untuk merasa bingung, nanti coba lagi,

Tidak apa-apa untuk merasa sendiri, nanti kita bisa bercerita lagi,

Tidak apa-apa merasa tidak berguna, nanti kita berusaha lagi.

 It's okay not to be okay, hang on there!!! You are worth it. 💕

This entry was posted in

Minggu, 12 Juli 2020

Book Review : Britt-Marie Was Here

 



Title : Britt-Marrie Was Here

Year : 2016

Publisher : Sceptee

Author : Fredrick Backman


Blurb :

At first sight, Britt-Marie is a fussy, passive-aggressive busybody. But hidden inside her is a woman who has bigger dreams and a warmer heart than anyone around her imagines. When she finds herself alone for the first time in decades, she realizes she's spent her life making choices for the sake of other people.

Is lt too late for her to change?

And In a small town of big-hearted misfits, can Britt-Marie find a place where she truly belongs?


Review :

I already read two of Backman books, first is My Grandmother Ask Me to Tell You she's Sorry, and the second book was A Man Called Ove.

Backman never disapoimyed me with his work. Even his IG caption always fun to read and both Indonesian and English translations (because the original book is in Swedish) is able to make me fall in love even though it has been translated.

Reading Britt-Marie is like drinking fresh afternoon tea (sugar free), bitter and warm. And that's my cup of tea.

In one chapter I can laugh at how eccentric Brittmarie's is, but in another chapter i want to crying with Britt-Marie. This rollercoaster feeling you had when you read Backman books.

There is a lot we can learn from Britt-Marie and the people at Borg. We can't judge people only from their appearance, we need to listen to other, because maybe he's right and we are wrong. We need to be more open to everything ahead us.

Britt-Marie teach us, that small things matter.

Here's one of the quotes from Britt-Marie,

"As people do when they don't have the ability to distinguish between 'a place to live' and 'a home'.  It's actually thoughfulness that makes the difference."

I recommend this book to people who are on their way to finding a 'home' to be back, finding someone who waits behind their bedroom window and stays awake for you. Finding their self, the true self, someone who want to try to be more open to the new world. 

For people who believe that little things matter and can change big things, and the fact that there is someone remembers you.

I hope you could find a warmth like how pizzeria welcome their guest. Have a nice Monday tomorrow!  💕



This entry was posted in