Senin, 27 April 2015

[Traveling] Maret, Akhinya sampai puncak Munara juga.



Jakarta- Pernah ngerasain punya temen suka maksa? Nah saya punya nih, untuk kelangsungan hidup, saya akan pangil dia Bela, orangnya . Tapi saya akan mengajak kamu berkenalan dulu sama dia.


        Saya kenal dia karena Lavi, Lavi bilang “coba aja mblo minta bantuan sama dia (Bela) dia suka desain-desain spanduk gitu, kemarin habis desain buat spanduk kemping ceria gitu.” begitu kata Lavi. Saya tadinya nggak mau sih, malahan saya males banget buat ngechat duluan. tapi terpaksa karena butuh desain baru. Jadi, ya saya ngechat duluan. 

       Singkatnya saya malah dipaksa ikut ke Munara, memenuhi janji saya sampe puncak munara (baca kisah munara sebelumnya, disana kan saya ketemu dia dan pacaranya (kayaknya) saya nanya yang berujung pada dia ngajak saya. )

“Jam 8 di pocin ya,” itulah tanda peng-iya-an saya ke dia karena saya orangnya risihan, mending di iyain sekarang daripada panjang kan?

      Ternyataaa, jam delapan hanya kata, faktanya tempat janjian ketemu di ganti jadi di stasiun Citayem. Akhirnya saya ketemu juga sama si Bela ini, kenalan langsung berangkat menembus pasar Citayem yang ternyata macet, dan kalian tahu? Kami nyasar.

      Kayaknya nggak enak gitu ya setiap pergi kalau nggak nyasar, nyasarlah kami lewat jalan sempit, pelosok, banyak kebon, sebelum menemukan jalan besar. Setelah berjuang di kemacetan pasar parung akhirnya kami sampai di Munara sekitar jam 11. 

Dia bilang, “Kalau bisa jam 12 kita turun” pengenya sih ngelempar dia pakai botol air mineral aja, dia sih enak sering naik gunung lah saya baru pertama kali, syukur-syukur habis ini dia nggak pingsan liat kelakuan saya. Hahaha.



       Daaan setelah parkir lalu hendak menyebrang, ternyata jembatanya putus. Jembatanya putuuuuus iya putus nggak bisa di lalui, akhirnya kita naik getek, duh rasanya saya pengen naik getek menyusuri sungai ajadeh deh, lebih menarik lihat air sih daripada lihat hutan wkwk.

       For the God shake kalian tahu saya berhasil berhenti lumayan jauh dari tempat awal. Rasanya senaaaaaang sekali. Bela bilang, “Kelihatan sih sekarang semangatnya” gitu kata Bela. Yaiyalaah pertama, kita berangkatnya pagi (walau sampai sini tetap siang), kedua saya sudah makan, ini kali kedua saya kesini, artinya saya mengenal medanya, walau sedikit.

        Terus kalian fikir setelah itu saya bakalan lebih kuat dari kemarin? Kalian salah. Saya tetep cengeng, lemah, dan putus asa seperti kemarin. Tapi malu nggak sih kalau nyerah? kan saya baru pertama kali ketemu dia. Gengsi dong!

“Jujur deh, kamu sering naik gunung kan? Jawab jujur.” Bela ngomong gitu di tengah-tengah saya sedang berusaha latihan pernafasan yang dia baru saja ajarkan tadi. Padahal saya udah bilang saya nggak pernah naik gunung, nggak pernah sampai puncak, nggak pernah olahraga juga, dan apakah dia nggak ngeliat muka saya yang sudah mau menangis itu? tidakkah dia melihat saya putus asa?

      Dia mulai menasehati lagi, katanya, “Olahraga lah, minimal, naik sepeda, lari atau main bulu tangkis.” Kalau ada temanya sih saya mau-mau aja, (alasan emang selalu hadir disela-sela pembelaan). Setelah berhenti beberapa kali akhirnya kami sampai di pos dua.Yeaaay! Pos dua men! pos dua! kalian tahu kan kemarin saya hanya sampai pos dua dan sudah nggak sanggup, sekarang saya sampai pos dua dan masih ada sisa kemauan nanjak sampai akhir, luar biasa.

     Kata Bela kita akan istirahat disitu agak lama, naiklah kita ke batu, duduk. Saya beruntung ya? Saya punya teman-teman, yang begitu baik mau jagain saya, dan nemenin saya. Selain si Bela saya juga punya teman namanya Usam, dia selalu mengajak saya untuk ikut dia nanjak, katanya andai saya di Semarang, mungkin kami akan sering melakukan perjalanan.

      Tapi bukankah andai saja tidak pernah cukup? Balik lagi ke pos dua, akhirnya setelah lelah hilang kami melanjutkan perjalanan lagi, Bela bilang dari pos dua ini sudah tinggal 1/4nya lagi. Whoaaa saya excited banget.

      Tapi, ke excited-an saya langsung lenyap ketika baru beberapa langkah  saya melihat jalanan menanjak di depan. Akhirnya kami jalan pelan-pelan. Saya jadi ingat dulu ada seorang Mbak pendaki bilang.

“Saya pernah punya teman yang manja dan dia mau naik gunung, dan nyebelinya dia nggak nurut. Karena sering berhenti pastinya yang lain capek, beban mereka jadi bertambah, waktu tempuh jadi makin panjang.” ada lanjutanya, tapi kalimat terakhir itu bikin saya sadar akan satu hal, si Bela ini pasti capek deh karena saya minta berhenti terus, pasti bebanya nambah deh gara-gara saya payah begini, saya nggak enak, serius. Apalagi saya baru kenal. Tapi tubuh saya berkata lain.



“Biar nggak capek, berhentinya tiap 15 menit sekali, ya.” katanya. Itu kan kata dia, kata nafas saya, saya disuruh berhenti setiap saat rasanya. Apalagi tanjakan makin lama makin curam, setelah melewati telapak Kabayan eh telapak siapa ya saya lupa wkwkw akhirnya kami melewati beberapa gua dan juga pohon besar dengan akar menjalar-menjalar.



        Dan Akhirnyaaaaaa kami sampai di puncak, akhirnyaaaa……Senang? Tentu. Nggak nyangka saya bisa sampai puncak. Eh tapi kok puncaknya nggak kelihatan seperti di foto-foto ya? Maksudnya di foto-foto gunung lain. Bentuk puncak munara seperti tebing-tebing. Ada puncak pertama, kedua dan ketiga. Puncak pertama dan kedua bersebelahan, puncak ketiga terpisah, tutur si Bela. (Yaiyalah ini kan bukan gunung sungguhan, waktu tempuhnya juga harusnya cuma 60 menit untuk bolak balik, bagi yang biasa naik gunung). Lah kalau saya kan? hmmmm yaaa

        Akhirnya kami mengelar matras lalu Bela menyalakan kompor dan merebus air untuk membuat susu. Setelah selesai dan sudah cukup istirahat, kami akhirnya memutusakan untuk menanjak ke puncak.

         Kalian tahu yang lain naik ke puncak pertama pakai tali, saya pakai tangan, merayap kayak spiderman, ini si Bela nggak ngerti atau sedang menguji nyali saya sih pikir saya, masa saya disuruh merayap pakai tangan. Tapi kenyataanya saya dengan mudah mengikuti si Bela untuk sampai puncak pertama yang sempit.

      Saya heran, saya ini takut ketinggian, kalau naik flying fox atau perosotan di kolam renang saya takut sekali, tapi merayap naik tebing munara malah membuat saya ketagihan. Mungkin, bakat terpendam.

      Setelah puas akhirnya kita mencoba naik puncak kedua, tebingnya cukup miring. Kali ini harus benar-benar naik tali. Saya suka, saya suka, kayaknya saya mau ikut komunitas panjat tebing deh (hayalan) hahaha. Setelah foto-foto akhirnya kami memutsakan untuk pulang, tadinya mau ke puncak ketiga, tapi, kami nggak menemukanya, akhirnya nyerah aja dan pulang.

     Kata Bela, kita akan lewat jalan lain karena jembatan yang di sana kan putus tuh. Jalanya lamaaaaaaa, bangeeeeeet, bangeeeeet. Buat saya putus asa, lagi, saya benar-benar mau menangis rasanya. Sudah nyaris tidak sanggup. 

      Dan kalian mesti tahu, saya benar-benar putus asa, ketika tahu akhirnya kami harus melewati ladang pesawahan warga dan kembali melewati jembatan pertama karena jembatan yg si Bela usulkan ternyata putus juga. Bayangkan lah bagaimana rasanya kaki dan nafas saya.



      Juga, rasanya pengen benamin si Bela di sawah-sawah aja. Tapi, secara si Bela ini sudah baik hati mau mengajak saya naik gunung (bukit menajak kalau kata Bela) ngajarin saya cara bernafas dengan benar, kalau jalan nafasnya lewat hidung, kalau berhenti nafasnya lewat perut. Dan, sabar mau dengerin saya yang ngeluh terus.

      Akhirnya sampai juga dibawaaaaaaaaaaah, akhirnya saya melihat parkiraaaaan. Akhirnyaaaaaa saya pernah berhasil sampai puncak Munara, akhirnyaaaaaaa saya memenuhi janji sayaaaaaaaa.

Akhirnyaaaaaaaaa
Alhamdulillah.



Terimakasih bang Bela, sudah berbaik hati mengajak saya naik gunung. 




- Dian -